Tag Archives: edukasi anak

Gak perlu panjang, seperlunya saja

Pagi ini, istri saya memberi kabar bahwa anak saya tadi malam tidak bisa tidur. Kangen katanya. Adeeemm…bener rasanya. Saya juga begitu rindu untuk bertemu mereka.

Anak saya yang pertama ini berumur 5 tahun. Sudah suka bertanya macam-macam. mulai dari cara mengerjakan sesuatu, mau tahu apa ini, apa itu, apa saja ditanyakan. Dan terkadang saya sendiri kewalahan untuk bisa menjawabnya. Tepatnya memberi jawaban dan penjelasan yang kira-kira mudah untuk dia cerna.

Kadang pertanyaan yang diajukan dengan panjang lebar saya jawab dengan singkat. Apabila tidak puas, dia kan bertanya lagi, bahkan diulang-ulang terus sampai dia puas dengan jawaban yang saya berikan.

Saya berfikir suatu saat nanti dan memang pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang saya sendiri kalo menjawabnya pasti berkeringat. Yessss, thats right, anda benar. Pertanyaan yang berhubungan dengan sex education.

menurut saya untuk berdiskusi masalah seks kepada anak itu tidak mudah. Benar-beanr perlu persiapan. Sebenarnya sudah banyak tulisan-tulisan yang mengulas bagaimana cara menyampaikan pendidikan seks kepada anak. Tapi saya tetep saja merasa itu sebuah tantangan tersendiri dalam mendidik anak.

Pernah ketika saya menemani anak saya BAB di sebuah Mall di kawasan Jakarta Selatan. Entah kenapa anak saya yang satu ini senang sekali meninggalkan jejak apabila diajak ke mall.

Dia bertanya seperti ini,
“Pah, mamah lagi gak sholat yah?”

Saya diam saya. Saya lirik petugas cleaning service yang sedang mengepel lantai. khawatir dia nguping. Walau saya yakin dia pasti penasaran akan jawaban saya.

Anak saya bertanya lagi.
“Mamah lagi berdarah yah, pah?”

saya masih diam….sambil tutup idung. Ingin sekali menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam, tapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan.

Saya katakan kepada anak saya,
“Kakak, benar mamah sedang tidak sholat karena sedang berhalangan. Jadi tidak boleh sholat dulu. Maaf, kakak boleh bertanya lagi nanti setelah selesai BAB nya yah”.

“Oke, pah”, jawab nya.

Alhamdulillah pemirsa, dia lupa untuk bertanya lagi…hehe.

Dari pengalaman itu bisa saya katakan bahwa kita harus bisa menunda sementara apabila kita bingung atau memang tidak tahu jawabannya. Cari tahu dulu, jangan memaksa untuk menjawab. Tahan dulu 7 detik. Tenang. Calm down. Dan jawab seperlunya saja. Tidak perlu panjang-panjang dan menggunakan kata-kata ilmiah, toh anak kita juga belum tentu faham dari kata-kata yang kita ucapkan. Kita pilih kata-kata yang tepat dan mengena.

Oiyah, saya jadi teringat pula akan sebuah kisah obrolan seorang anak dengan ayahmya yang pernah saya dengar. Kira-kira seperti ini kisahnya,

Saat itu sore hari. Sang ayah sedang duduk santai di teras rumah sambil membaca koran. Tiba-tiba anaknya berlari-lari menghampiri ayahnya.

anak itu bertanya, “Ayah.. aku asalnya dari mana sih…?”

Kemudian ayahnya tersenyum. Membelai ringan rambut anaknya. Lalu menjawab,
“Ooo…itu…. Kamu itu diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani yang tersimpan dalam tempat yang kokoh. Kemudian dijadikan darah beku yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian di jadikan Allah segumpal daging dan kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu, kepadanya ditiupkan Ruh”

“emang kenapa kok kamu bertanya tentang itu?”

Kemudian sang anak menjawab, “Enggak…. soalnya tadi temanku bilang dia asalnya dari Klaten…”

Salam 7 detik.

@wickrady