Menunda Kesenangan

Pernah dengar bahwa membuat seekor keledai bisa berjalan lebih cepat bisa dengan menggunakan 2 cara. Cara pertama adalah dengan mengikat sebuah wortel yang dikaitkan dengan tali pada ujung sebatang kayu, lalu wortel tersebut dipancing dihadapan keledai tersebut agar dia berjalan lebih kencang untuk berusaha mendapatkan wortel tersebut. Yup, si keledai berharap mengejar “reward” berupa wortel apabila dia berjalan lebih cepat dari biasanya.

Donkey and Carrot

Cara kedua adalah dengan menggunakan stik atau cemeti. Si keledai dipaksa untuk berjalan lebih cepat dengan cara diberi “punishment” berupa pukulan atau cambukan pada tubuhnya agar dia berjalan lebih cepat dari biasa.

itulah cerita si keledai. Bagaimana dengan kita, apakah memerlukan juga sebuah proses reward dan punishment ini? seberapa perlu kita gunakan metode ini?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Chicago pada 150 guru sekolah negeri di Chicago Height, Illinois. Mereka membagi 2 kelompok guru dan mengatakan bahwa bonus mereka akan bergantung pada hasil nilai tes siswa mereka.

Kelompok guru pertama akan menerima bonus pada akhir tahun jika nilai tes siswa meningkat. dan Kelompok yang kedua akan menerima bonus pada bulan September dan setuju untuk mengembalikan uang bonus tersebut apabila nilai tes gagal naik pada ujian aknir nanti.

Guru yang menghadapi ancaman harus mengembalikan bonus mereka menghasilkan skor tes siswa 7% lebih tinggi daripada rata-rata skor siswa yang mendapat bonus dengan cara konvensional.

Dan ternyata penerapan reward dan punishment ini cukup berpengaruh pada kinerja seseorang ataupun perusahaan.

Di sebuah perusahaan ada juga yang menerapkan punishment berupa penundaan terhadap reward. Nah lo…apa lagi nih? Begini ceritanya…. Perusahaan tersebut pada awal tahun sudah membuat pengumuman bahwa akan ada kenaikan gaji yang berlaku mulai bulan Juli pada tahun tersebut. akan tetapi karena adanya penurunan sales di Q1, maka diumumkan bahwa kenaikan gaji tertunda menjadi bulan Desember kecuali para karyawan berusaha keras bisa untuk bisa mencapai target sales di Q2 menjadi 2x lipat. Dan ternyata berhasil, perusahaan tersebut revenue nya malah lebih tinggi dari sebelumnya walaupun ada penurunan di awal periode tahun.

Bagaimana dengan diri sendiri, bisa gak? Dibisain aja lah….hehe.

Misal kita seorang pengusaha. Pasang aja target untuk usaha kita, seperti “apabila berhasil dapat omzet 5jt maka saya akan traktir diri saya sendiri makan ice cream cone Mcd”. Lakukan komitmen tersebut, dan selama belum berhasil mencapai target, jangan makan ice cream cone McD walaupun sebenarnya bisa aja.

contoh lagi, misal. “Saya tidak akan minum ice cappuccino di Dunkin Donat walaupun lagi numpang nongkrong disana sebelum revisi bab 4 acc dosbing”. ini contoh lho ya…contoh….bisa aja yang lain-lain lagi. Yang penting seting targetnya lalu komitmen untuk menjalankannya.

Lalu apakah bisa diterapkan terhadap anak? bagaimana bahasannya di dunia parenting? Hehe… Jangankan untuk anak-anak, ternyata di dunia parenting, Reward dan Punishment juga berlaku untuk orang tua?

HAH??? Kok bisa….??? Penasaran?

Simak nanti malam di #KelasONline pukul 20:00 wib bersama sahabat saya Dwi Ishak.dwiiskah

Salam 7 detik,

@wickrady

Category: Management, Personal, Umum | Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published.