Category Archives: Management

Aksi dan Reaksi

Ada seorang ayah, yang malam itu sedang sangat sibuk membuat slide untuk dipresentasikan pada rapat pimpinan di kantornya besok hari. Keesokan harinya, ketika sedang sarapan pagi tanpa sengaja anaknya menumpahkan kopi ke baju sang ayah.

Tidak sampai 1 detik, emosi sang ayah langsung memuncak. Dia marahi anaknya dengan suara yang sangat keras. Wajahnya merah saking marahnya. Istrinya menghampiri mencoba untuk menenangkan. Bukannya mereda, amarah sang ayah malah berpindah kepada istrinya. Bahkan menyalahkan istrinya dan menganggap gagal dalam mendidik anak. Bibi yang bergegas untuk membersihkan tumpahan kopi ikut kena imbas amarah sang ayah, karena menghalangi jalannya.

Ayah lalu masuk ke kamar untuk mengganti kemeja. Karena suasana hati sedang tidak nyaman, berkali-kali kemeja yang dikenakan dirasakan tidak ada yang cocok. Hingga tersadar bahwa begitu banyak waktu yang dia buang untuk berangkat ke kantor. Dengan tergesa-gesa ayah masuk ke mobil dan memerintahkan supirnya untuk jalan.

Ditengah jalan, ayah tersadar bahwa notebook untuk presentasi tertinggal di meja makan. Supir disuruh segera memutar kembali ke rumah, tapi jalanan pagi itu sangat padat. Emosi ayah yang masih belum reda kembali memuncak. Dan pak supir yang menjadi sasaran kali ini.

Hari ini ayah mengawali pagi dengan suasana yang tidak nyaman. Penuh dengan energi negatif. Mungkin bisa berlanjut terus hingga sampai dikantor. Atau bahkan mungkin hingga kembali ke rumah.

*****

Sekarang mari kita ulangi cerita diatas.

………..Keesokan harinya ketika sarapan tanpa sengaja anaknya menumpahkan kopi dan kena baju sang ayah. Anaknya tampak sangat ketakutan.
Sang ayah tersenyum, lalu mendekati anaknya dan berkata, “nak, berjalan saja!. Tidak perlu terburu-buru ya. Biar gak nyenggol atau nabrak lagi. Jadi tidak ada yg tumpah atau pecah.

Anak itu meminta maaf kepada ayahnya. Ibu meminta bibi utk membersihkan tumpahan kopi tersebut, lalu mengajak ayah ke kamar. Dipilihkannya baju ganti untuk sang suami.

“Ayah, ini baju gantinya. Kamu cocok pake ini utk presentasi”.

Ayah tersenyum. “Terima kasih, sayang”, ujarnya singkat sambil memberikan kecupan ke kening istrinya. Hhhhhhhheehh…..adeeemmm…hehe.

Ayah siap utk berangkat kerja, ketika hendak masuk mobil. Tiba2 bibi berteriak…
“Paakk!!, ini Laptop-nya ketinggalan”

Wah…ayah merasa lega sekali. Perjalan lancar dan suasana hati ayah pagi itu begitu ceria, penuh energi positif. Dan mungkin akan terus berlanjut hingga seterusnya…

*****

Setelah kita melihat dua situasi diatas yang manakah yang ingin kita jalani? Semua orang sepakat untuk memilih cerita yang kedua. Tapi situasi mana yang lebih sering kita alami? Hehe…sebenarnya kita sendiri yang menentukannya. Kita sendiri yang mendesain alur kehidupan yang akan kita jalani. Kita sendiri yang memilih jalan mana yang harus dilalui. Setiap aksi yang sudah kita ambil maka akan menimbulkan reaksi. Dan reaksi yang muncul akan bermacam-macam tergantung dengan aksi apa yang kita pilih. Bisa dari internal diri kita sendiri atau dari eksternal orang lain ataupun lingkungan.

Ingat selalu untuk bisa menahan diri, untuk jangan buru-buru. Stop, Think, Do. Satu tarikan nafas panjang saja kok. Hanya 7 detik. Dan reaksi dari aksi yang diambil bisa lama impact nya. Kita lihat lagi cerita pertama. Aksi yang diambil ayah adalah marah. akibatnya sampe sore tetep aja bete gak kelar-kelar. Misalnya kita salah ngomong ke temen, trus baper. Bisa berhari-hari ntar gak disapa. So….kalem dulu…

Stop
Think
Do

Emang ada orang bisa nahan-nahan begitu? Ada donk.
Pernah gak pas lagi liat di group WA tiba-tiba someone typing….lama…lalu hilang gak muncul apa-apa. Karena tiba-tiba di pikiran someone itu terlintas, “eh, kalo ngetik ini nanti ada yang marah gak yah? ada yang tersinggung gak yah?”.
Atau misal ketika lagi asyik ngobrol sama teman, apa yang mau diomongin tiba-tiba gak jadi diomongin. Seperti ada yang melintas cepat dipikiran kita memberi tahu “hey, jangan ngomong gitu…Bahaya”. Ternyata didalam diri kitapun ada alarm intuisi yang berusaha untuk memperingatkan kita.

Teruslah berlatih untuk menahan diri sejenak. Kita coba kendalikan keadaan untuk menciptakan reaksi yang positif.

Salam 7 detik

@wickrady

 

7 Detik Saja

Para pimpinan mendadak dikumpulkan dalam sebuah rapat yang dimajukan satu hari dari jadwal biasanya. Sebuah hal yang tidak biasanya terjadi sehingga menimbulkan tanda tanya oleh para pimpinan yang hadir. Direktur menutup rapat hari itu dan menyampaikan sengaja rapat dimajukan karena beliau akan mengambil cuti besok hari dan akan keluar kota dengan penerbangan malam ini.

Salah seorang pimpinan kemudian menyeletuk, “Wah… jalan-jalan keluar negeri nih, pak. Bakal seru nih, kita-kita dapat oleh-oleh ya, Pak?”, serunya sambil mereng-mereng.

Direktur tersebut sambil tersenyum menjawab, “Ah..tidak..tidak, saya hanya pulang kampung saja. Ada sedikit keperluan”.

“Ooo…pulang kampung, pak. wah mau main-main ke pantai, pak? Disana pantainya kan cantik sekali. Cuma gak tau yah pas bencana alam yang lalu, jadi rusak apa gak tuh disana…”. lanjut pimpinan itu lagi.

Pak Direktur kembali menjawab pertanyaan tersebut dengan tersenyum. “Saya pulang kebetulan untuk mengenang bencana alam tersebut. Karena kejadian itu merupakan kenangan pahit untuk saya”.

Kali ini wajah pimpinan tersebut tidak sesumringah ketika bertanya tadi. “Maaf ya, Pak. Saya tidak tahu…Nggg…Kalo begitu save flight ya, Pak. Salam untuk keluarga disana”.

“Keluarga saya sudah tidak ada. Semuanya jadi korban bencana tersebut”. Ujar pak Direktur.

Dan pimpinan itupun semakin salah tingkah, kepalanya sedikit tertunduk, dengan bibir yang bergetar dipaksakan untuk tersenyum.

Dari uraian cerita diatas tampak sang pimpinan begitu antusias, begitu exited, begitu terbawa euforia hingga buru-buru menyampaikan sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu apa akibat dari perkataan yang diucapkannya. Terkadang ketika kita sedang senang, sedang gembiranya, kita lupa menahan sejenak. cuuss….apa saja yang kita ucapkan meluncur tak terkontrol. hingga akhirnya tersadar, ternyata menyinggung orang lain. ternyata menyakiti perasaan orang lain. ternyata membuka aib orang lain atau bahkan diri sendiri. Tahan dulu sejenak, 7 detik saja kok.

Cobalah untuk menahan sebentar apa yang akan kita ucapkan, apa yang akan kita lakukan apakah ada manfaatnya atau malah menimbulkan masalah. tenang dulu, 7 detik saja.

“Kenapa sih harus 7 detik?”. ya biar gak kelamaan kali, masa mau 14 tahun?

Hehe…kenapa 7 detik, karena butuh waktu 6 detik stimulus yang masuk ke thalamus untuk masuk ke neokorteks. Apabila belum 6 detik maka akan dibajak oleh amikdala yang berperan sebagai pusat emosi di otak.

“Trus bagaimana kita tahu sudah 7 detik apa belum kita nahannya? masa kudu dihitung terus”.

Cukup dengan tarik nafas yang dalam lalu keluarkan dengan perlahan. silahkan coba. Dengan menarik nafas panjang tubuh lebih rileks dan nyaman. Berfikir jadi lebih positif.

Yuk, kita coba menahan diri sejenak dalam bersikap. gak lama kok, 7 detik saja. Kita jaga bicara, perbuatan, tindakan kita agar lebih positif dan bermanfaat.

Saya teringat akan sebuah pesan Rasulullah SAW yang bersabda,

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.”

(HR. Muslim no. 2988)

Salam 7 detik,

@wickrady

Menunda Kesenangan

Pernah dengar bahwa membuat seekor keledai bisa berjalan lebih cepat bisa dengan menggunakan 2 cara. Cara pertama adalah dengan mengikat sebuah wortel yang dikaitkan dengan tali pada ujung sebatang kayu, lalu wortel tersebut dipancing dihadapan keledai tersebut agar dia berjalan lebih kencang untuk berusaha mendapatkan wortel tersebut. Yup, si keledai berharap mengejar “reward” berupa wortel apabila dia berjalan lebih cepat dari biasanya.

Donkey and Carrot

Cara kedua adalah dengan menggunakan stik atau cemeti. Si keledai dipaksa untuk berjalan lebih cepat dengan cara diberi “punishment” berupa pukulan atau cambukan pada tubuhnya agar dia berjalan lebih cepat dari biasa.

itulah cerita si keledai. Bagaimana dengan kita, apakah memerlukan juga sebuah proses reward dan punishment ini? seberapa perlu kita gunakan metode ini?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Chicago pada 150 guru sekolah negeri di Chicago Height, Illinois. Mereka membagi 2 kelompok guru dan mengatakan bahwa bonus mereka akan bergantung pada hasil nilai tes siswa mereka.

Kelompok guru pertama akan menerima bonus pada akhir tahun jika nilai tes siswa meningkat. dan Kelompok yang kedua akan menerima bonus pada bulan September dan setuju untuk mengembalikan uang bonus tersebut apabila nilai tes gagal naik pada ujian aknir nanti.

Guru yang menghadapi ancaman harus mengembalikan bonus mereka menghasilkan skor tes siswa 7% lebih tinggi daripada rata-rata skor siswa yang mendapat bonus dengan cara konvensional.

Dan ternyata penerapan reward dan punishment ini cukup berpengaruh pada kinerja seseorang ataupun perusahaan.

Di sebuah perusahaan ada juga yang menerapkan punishment berupa penundaan terhadap reward. Nah lo…apa lagi nih? Begini ceritanya…. Perusahaan tersebut pada awal tahun sudah membuat pengumuman bahwa akan ada kenaikan gaji yang berlaku mulai bulan Juli pada tahun tersebut. akan tetapi karena adanya penurunan sales di Q1, maka diumumkan bahwa kenaikan gaji tertunda menjadi bulan Desember kecuali para karyawan berusaha keras bisa untuk bisa mencapai target sales di Q2 menjadi 2x lipat. Dan ternyata berhasil, perusahaan tersebut revenue nya malah lebih tinggi dari sebelumnya walaupun ada penurunan di awal periode tahun.

Bagaimana dengan diri sendiri, bisa gak? Dibisain aja lah….hehe.

Misal kita seorang pengusaha. Pasang aja target untuk usaha kita, seperti “apabila berhasil dapat omzet 5jt maka saya akan traktir diri saya sendiri makan ice cream cone Mcd”. Lakukan komitmen tersebut, dan selama belum berhasil mencapai target, jangan makan ice cream cone McD walaupun sebenarnya bisa aja.

contoh lagi, misal. “Saya tidak akan minum ice cappuccino di Dunkin Donat walaupun lagi numpang nongkrong disana sebelum revisi bab 4 acc dosbing”. ini contoh lho ya…contoh….bisa aja yang lain-lain lagi. Yang penting seting targetnya lalu komitmen untuk menjalankannya.

Lalu apakah bisa diterapkan terhadap anak? bagaimana bahasannya di dunia parenting? Hehe… Jangankan untuk anak-anak, ternyata di dunia parenting, Reward dan Punishment juga berlaku untuk orang tua?

HAH??? Kok bisa….??? Penasaran?

Simak nanti malam di #KelasONline pukul 20:00 wib bersama sahabat saya Dwi Ishak.dwiiskah

Salam 7 detik,

@wickrady

Category: Management, Personal, Umum | Tags: ,