Benarkah Kita Sudah Bersyukur?

Tulisan ini saya salin dari personal web site Pak Jamil Azzaini (www.jamilazzaini.com). Seorang inspirator SuksesMulia, agar menjadi pengingat kepada saya pribadi untuk menjadi seorang yang pandai bersyukur.

Ada yang berkata kepada saya, “Mas Jamil ini serakah dan kurang bersyukur. Order training dari perusahaan ternama tiap hari ada tapi masih mengadakan public seminar.” Sesungguhnya, banyak yang salah memahami makna bersyukur. Karena kesalahan pemahaman ini, akhirnya orang itu tidak berkembang. Dampak selanjutnya karir atau bisnisnya stagnan. Menerima dan senang atas kenikmatan yang kita peroleh itu baru sebagian kecil dari makna bersyukur. Apabila target tercapai, order banyak, karir melejit kemudian Anda bahagia dan memuji Sang Pencipta memang itu bersyukur. Tetapi pemahaman itu belum utuh. Berhenti pada pemahaman ini membuat Anda cepat puas bahkan dalam jangka panjang bisa membuat Anda malas. Bersyukur juga mengandung makna intensifikasi dan ekstensifimanusia yang terlahir ke dunia pasti diberi modal terbesar oleh Allah SWT berupa potensi diri. Tugas manusia adalah menemukan dan kemudian melakukan intensifikasi serta ekstensifikasi potensi diri.

Intensifikasi itu mendayagunakan dan mengoptimalkan potensi yang ada. Potensi yang sudah Anda temukan tadi terus diasah tiada henti. Salah satu bukti bahwa Anda sudah melakukan intensifikasi potensi diri adalah Anda sudah menjadi seorang ahli di bidang yang Anda tekuni. Dari keahlian Anda yang sudah terasah maka akan terlahir karya-karya besar yang memberi banyak manfaat. Oleh karena itulah, apabila Anda belum menghasilkan karya di atas rata-rata kebanyakan orang jangan mengaku bahwa Anda sudah bersyukur. Sementara ekstensifikasi diri bermakna terus menemukan potensi diri yang mendukung keahlian yang ditekuni. Seorang peneliti, misalnya, tidak boleh puas dengan hasil penelitiannya saja. Dia perlu mengembangkan kemampuan memasarkan hasil penelitiannya sehinga penemuannya diketahui sekaligus memberi manfaat kepada banyak orang. Intensifikasi dan ekstensifikasi menghasilkan manusia pembelajar dan haus akan prestasi-prestasi besar. Menerima (acceptance) dan senang atas berbagai nikmat yang Anda peroleh hanyalah kunci pembuka rasa syukur. Anda harus masuk kedalam ruangan syukur yang lebih luas dengan cara melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi potensi diri. Cobalah renungkan sejenak, sudahkah Anda menjadi manusia yang bersyukur? Bila Anda menjawab sudah, apakah karya atau prestasi Anda yang diakui banyak orang? Bersyukur itu perlu bukti, bukan hanya pengakuan diri dan perasaan dalam hati. Anda mau berlatih bersyukur? Sebarlah tulisan ini apabila Anda merasakan manfaat dari tulisan ini. Hehehehe… kalau ini namanya “maksa dot com”. Salam SuksesMulia! Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Category: Umum

One comment on “Benarkah Kita Sudah Bersyukur?

  1. Hhhmm. Sudut pandang baru buat saya nih pak.

    Artikenya pak, bagus. Menginspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.