7 Detik Saja

Para pimpinan mendadak dikumpulkan dalam sebuah rapat yang dimajukan satu hari dari jadwal biasanya. Sebuah hal yang tidak biasanya terjadi sehingga menimbulkan tanda tanya oleh para pimpinan yang hadir. Direktur menutup rapat hari itu dan menyampaikan sengaja rapat dimajukan karena beliau akan mengambil cuti besok hari dan akan keluar kota dengan penerbangan malam ini.

Salah seorang pimpinan kemudian menyeletuk, “Wah… jalan-jalan keluar negeri nih, pak. Bakal seru nih, kita-kita dapat oleh-oleh ya, Pak?”, serunya sambil mereng-mereng.

Direktur tersebut sambil tersenyum menjawab, “Ah..tidak..tidak, saya hanya pulang kampung saja. Ada sedikit keperluan”.

“Ooo…pulang kampung, pak. wah mau main-main ke pantai, pak? Disana pantainya kan cantik sekali. Cuma gak tau yah pas bencana alam yang lalu, jadi rusak apa gak tuh disana…”. lanjut pimpinan itu lagi.

Pak Direktur kembali menjawab pertanyaan tersebut dengan tersenyum. “Saya pulang kebetulan untuk mengenang bencana alam tersebut. Karena kejadian itu merupakan kenangan pahit untuk saya”.

Kali ini wajah pimpinan tersebut tidak sesumringah ketika bertanya tadi. “Maaf ya, Pak. Saya tidak tahu…Nggg…Kalo begitu save flight ya, Pak. Salam untuk keluarga disana”.

“Keluarga saya sudah tidak ada. Semuanya jadi korban bencana tersebut”. Ujar pak Direktur.

Dan pimpinan itupun semakin salah tingkah, kepalanya sedikit tertunduk, dengan bibir yang bergetar dipaksakan untuk tersenyum.

Dari uraian cerita diatas tampak sang pimpinan begitu antusias, begitu exited, begitu terbawa euforia hingga buru-buru menyampaikan sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu apa akibat dari perkataan yang diucapkannya. Terkadang ketika kita sedang senang, sedang gembiranya, kita lupa menahan sejenak. cuuss….apa saja yang kita ucapkan meluncur tak terkontrol. hingga akhirnya tersadar, ternyata menyinggung orang lain. ternyata menyakiti perasaan orang lain. ternyata membuka aib orang lain atau bahkan diri sendiri. Tahan dulu sejenak, 7 detik saja kok.

Cobalah untuk menahan sebentar apa yang akan kita ucapkan, apa yang akan kita lakukan apakah ada manfaatnya atau malah menimbulkan masalah. tenang dulu, 7 detik saja.

“Kenapa sih harus 7 detik?”. ya biar gak kelamaan kali, masa mau 14 tahun?

Hehe…kenapa 7 detik, karena butuh waktu 6 detik stimulus yang masuk ke thalamus untuk masuk ke neokorteks. Apabila belum 6 detik maka akan dibajak oleh amikdala yang berperan sebagai pusat emosi di otak.

“Trus bagaimana kita tahu sudah 7 detik apa belum kita nahannya? masa kudu dihitung terus”.

Cukup dengan tarik nafas yang dalam lalu keluarkan dengan perlahan. silahkan coba. Dengan menarik nafas panjang tubuh lebih rileks dan nyaman. Berfikir jadi lebih positif.

Yuk, kita coba menahan diri sejenak dalam bersikap. gak lama kok, 7 detik saja. Kita jaga bicara, perbuatan, tindakan kita agar lebih positif dan bermanfaat.

Saya teringat akan sebuah pesan Rasulullah SAW yang bersabda,

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.”

(HR. Muslim no. 2988)

Salam 7 detik,

@wickrady

Leave a Reply

Your email address will not be published.